Rabu, 14 Mei 2014

Ikan Padat Tebar Tinggi Dengan Tehnik Biofloc

Pedal wheel aerator

Kutemukan tehnik ini ketika mencari berapa luas kolam ikan supaya dapat menutup biaya hidup minimal dalam satu bulan, dan panen kontinyu setiap bulan sesuai siklus panen ikan tiap 3 bulan. Dengan padat tebar di atas 40 kg per m3 diperlukan alat tambahan filter mekanik dan biologi, aerasi,dan pompa air. Setelah mendapat petunjuk dari mbah google dapatlah tehnik hanya dengan aerasi (pompa udara) tanpa air perlu disirkulasi dengan memakai tehnik biofloc.

Apakah biofloc itu?

Dari kata bio - biology dan floc - gumpalan, gumpalan yg berisi organisme hidup. Dalam floc berisi bakteri, alga, protozoa, protein dll.
 

Bagaimana terjadinya?

Dalam kolam dengan sistem biofloc untuk memudahkan kita memakai siklus Nitrogen seperti di bawah ini:
Ada tiga proses yaitu:
  1. Nitrifikasi - merubah amoniak dalam pakan menjadi nitrit (NO2) lalu nitrat (NO3) dengan tambahan oksigen (O2)
  2. De-Nitrifikasi - merubah nitrat menjadi gas nitogen (N2)
  3. Floc - merubah amoniak menjadi protein dengan bantuan oksigen dan carbon (molase, tepung dll) 
Dengan sistem ini kolam ikan bisa menjadi tiga kondisi (1) dengan intensitas matahari yg tinggi maka alga dominan, (2) bakteri dan alga berimbang dan (3) bakteri dominan untuk di kolam dalam ruangan.


Bagaimana aplikasinya di kolam ikan?

Alat yg dibutuhkan adalah wadah yg bisa menampung air bisa kolam tanah, beton, terpal, fiberglass dll. dan Pompa udara. Penempatan pompa udara sedemikina ruba sehingga padatan mengumpul di tengah untuk bisa dibuang dengan mudah. Pompa udara jalan 24 jam per hari, dengan padat tebar tinggi 1000 ekor per m3 maka kita perlu cadangan jika pompa rusak atau listrik mati. Ikan yg sesuai untuk sistem ini adalah udang, nila dan lele karena mereka lebih tahan terhadap kualitas air yg keruh.

Bagaimana cara memulainya di kolam baru?

  1. Tujuan : mengembangkan sistem bioflok
  2. Pakai air bekas kolam bioflok (yang terbaik)
  3. Mulai dari nol, masukkan bahan organik seperti molase atau pakan bekas yg sudah expire.
  4. Tambahkan pupuk N dengan kadar 0,5 - 2,5 mgN/ liter
  5. Tunggu beberapa minggu
  6. Pertama ganggang yg berkembang biak, setelah itu berbentuk busa sebelum berwarna coklat
  7. Tambahkan karbon jika TAN lebih dari 2 mg/ L
  8. Kalau perlu tambahkan tanah liat atau jerami

Hal apa yg diperlukan ketika memberi makan ikan?

  1. Beri pakan dengan rasio C/N 15 - 25
  2. Sesuaikan pakan tergantung TAN dan level Nitrit (NO2)
  3. Total C/N sangat penting. Beri pakan dengan protein rendah, atau kalau pakai protein tinggi tambahkan carbon.
  4. Kuras limbah padat yg mengendap sehari sekali di kolam nila atau lele,





Pilihan untuk penambahan carbon yg pertama adalah molase, karena langsung terlarut ke air. Jika memakai tepung harus dilarutkan dulu ke air sebelum dimasukkan ke kolam, karena kalau langsung akan menggumpal.



Bagimana manajemen oksigen?

Oksigen komponen penting dalam sistem biofloc (BFT) karena bakteri yg kita inginkan adalah bakteri yg butuh oksigen. Ada beberapa pilihan untuk sistem aerasi dan mixing, (1) diffuser aerator -utamanya untuk sistem kecil dengan cara menggerakkan dari dari dasar ke permukaan dan pencampuran yg konstan, (2) Surface aerator - digunakan secara luas di kolam pembesaran, dan yg terakhir (3) vertical pump aerator - menghasilkan pencampuran lokal yg baik.
Diffuser Aerator
Vertical pump aerator
Propeler aerator


Bagaimana monitoring dan kontrol?

  1. Oksigen terlarut lebih tinggi dari 4 mg/ liter, maka kurangi jumlah pompa atau aerator.
  2. Total Amoniak Nitrogen (TAN) tinggi, maka tambahkan carbon lebih banyak. Kalau TAN dibawah 0.5 mg/ liter maka kurangi jumlah carbon.
  3. Nitrit (NO2) tinggi, maka cari daerah tumpukan padatan dan rubah posisi aerator seperlunya untuk mengurangi timbunan.
  4. Floc volume normal antara 5 - 50 mL/ liter ukur memakai imhoff cone. Jika lebih tinggi, maka tingkatkan pembuangan padatan. Jika rendah, maka tambah karbohidrat.

Apakah ada fakta unik?

Bakteri heterotropik menjadi dua kali lipat dalam satu jam, sedangkan bakteri nitrifikasi berkembang menjadi dua kali lipat dalam satu hari.


Lalu bagaimana menghubungkan dengan hydroponik jika air tidak perlu disirkulasi?

Ada celah dalam sistem ini terbentuknya nitrat jika konsentrasinya sanat tinggi akan sangat beracun. Makanya ada bakteri de-nitrifikasi yg merubah menjadi N2. Bagaimana kalau sebelum bakteri itu tumbuh kita pakai untuk input sistem hidroponik. Sampai detik ini belum dapat makalah atau eksperimen mengani hal ini. Di UVI pak Rakocy memakai sistem floc secara terpidah dari sistem aquaponic.

Jadi idenya lebih baik seperti ini:
  1. Memakai sistem aquaponics dengan mensirkulasi kembali limbah padat ke sistem aquaponic dengan memakai proses mineralisasi aerobik. Apakah itu mineralisasi aerobik? Jadi ketika kita membuang limbah padatan maka kita kumpulkan dalam wadah tersendiri dengan diberikan aerasi, sehingga terjadi mineralisasi aerobik. Dan dalam wadah ini aerasi akan dihidup matikan sekali dalam satu hari. Dan ditambahkan limbah padat sekali dalam sat hari. Kenapa aerasi dimatikan? supaya limbah yg padat mengendap, dan yg bening kita kembalikan ke sistem aquaponik.
  2. Untuk mengimbangi produksi ikan yg efisien kita memakai sistem floc untuk mengoptimalkan panen ikan dalam 1 m3 air.
Ada ide lain menggabungkan langsung floc dengan hydroponik? Ini cocok sebagai bahan untuk membuat tugas akhir. Kalau sudah selesai janganlupa sharing ke saya ya.









Tidak ada komentar: