Minggu, 10 April 2011

Sistem Akuaponik / Sistem Tumpangsari/ Kombinasi Pembesaran Ikan dan Pembesaran Tanaman dari A sampai Z

Kolam disamping rumah dan depan rumah sudah siap total semua ada 3 kolam dengan 1m Lebar x 3m Panjang. Dan satu kolam disamping sudah aku tebar 1025 ekor lele mulai tanggal 31 Maret 2011 dengan panjang bibit sekitar 5 cm dengan ketinggian air 30cm. Padat tebarnya lumayan tinggi sekitar 333 ekor/m2. Dan hari kamis 7 April 2011 karena sudah mulai berbau aku kurangi airnya separo dan kuganti dengan air baru. Bukan hanya itu aku tambah aeator dengan sistem water lift memakai pipa paralon 1/2”. Ada ruang di kanan kiri kolam, satu dinding rumah dan yg satu dinding pagar pembatas rumah. Aku pingin mengoptimalkan itu untuk tanaman sayuran. Aku googling sebentar mencari kata-kata ‘tumpang sari’ ‘ikan’ ‘tanaman’, akhirnya ketemulah sistem yg bernama Akuaponik. Kolam di rumahku akan aku upgrade dengan sistem ini, lumayan bisa panen ikan sekalian panen sayur.

IMG0198A IMG0200A

Apakah itu Akuaponik?

image


Aquakultur merupakan bagian dari pengelolaan air pada budi daya ikan pada kolam. Melalui managemen yang baik, bisa dikembangkan lebih komersial. Diantaranya dengan pengaturan pH, oksigen terlarut (DO), suhu, kuantitas dan kualitas makanan ikan. Fokus dalam Akuakultur adalah memaksimalkan pertumbuhan ikan di dalam tangki atau kolam pemeliharaan. Ikan biasanya ditebar pada tangki atau kolam dengan kepadatan yang tinggi. Tingkat penebaran yang tinggi ini berarti bahwa air untuk budidaya menjadi mudah tercemar oleh kotoran ikan. Kotoran ikan ini berbentuk Amonia yang beracun bagi ikan.

image

Hidroponik merupakan budi daya tanaman dengan  sumber nutrisi berasal dari campuran bahan kimia terlarut. Tanaman ini disimpan dalam lingkungan bebas tanah dan disesuaikan dengan kebutuhan spesies tanaman. Faktor penting dalam hidroponik adalah pemeliharaan lingkungan yang sehat bagi akar tanaman pH yang sesuai dan oksigen yang cukup untuk memungkinkan respirasi.

imageimage 

Akuaponik adalah kombinasi menarik antara Akuakultur dan Hidroponik yang mampu mendaur ulang nutrisi, dengan menggunakan sebagian kecil air daur ulang hingga memungkinnya pertumbuhan ikan dan tanaman secara terpadu. Sistim ini sebenarnya sudah biasa dipakai para petani Indonesia khusunya di Jawa. Yakni apa yang disebut dengan tumpang sari. menanam padi di sawah, sekaligus memelihara ikan di lahan persawahan itu. Hanya saja pada aquaponik media tumbuh tanaman tidak di atas tanah, namun menggunakan media tanam (grow beds) seperti batu kerikil.

Prinsip dasar yang digunakan dalam sistem akuaponik adalah resirkulasi, yang artinya memanfaatkan kembali air yang telah digunakan dalam pemeliharaan ikan dengan filter alami yang berupa tanaman dan medianya.

Air yang kotor (karena terkena kotoran ikan) dapat menjadi racun bagi ikan yang dipelihara dalam kolam. sebaliknya, air yang mengandung berbagai nutrien (yang berfungsi sebagai pupuk) tersebut sangat dibutuhkan oleh tanaman untuk menunjang pertumbuhan.

 

Pemilihan Komoditas

Pemilihan komoditas memegang peranan penting dalam merencanakan dan mendapatkan hasil sesuai yang diinginkan. Komoditas yang dipilih hendaknya didasarkan atas tersedianya pasar. Jenis ikan air tawar yang dapat dibudidayakan pada sistem akuaponik bisa ikan nila/tilapia, ikan mas, ikan koi, lele atau udang galah dan lain-lain, boleh dipelihara di dalam kolam, akuarium atau tangki.  Sedangkan untuk tanaman yang bisa dimanfaatkan sebaiknya tanaman yang mempunyai nilai ekonomis seperti bayam hijau, bayam merah, kangkung atau selada dan juga tanaman buah seperti lombok,terung, mentimun,tomat, melon. Bahkan di Astralia dan Amerika, sistim aquaponik juga bisa membudayakan pepaya maupun tanaman hias.

 

Keuntungan Akuaponik

Aplikasinya baik secara teoritis, praktis dan ekonomis tentu saja akuaponik akan sangat menguntungkan sekali, karena lahan yang dipakai tidak akan terlalu luas, memiliki hasil produksi ganda, hemat air, mengurangi penggunaan bahan kimia serta bersifat organik.

Keuntungan secara praktis sudah barang tentu kita tidak perlu mencangkul, merumput, menggembur dan membungkuk atau aktifitas lainnya yang menyiksa badan. Sistem akuaponik tidak menggunakan pupuk dan pestisida. Juga tidak perlu untuk menyiram sayuran setiap hari. Anda hanya memberi makan kepada ikan lalu menyebabkan anda mendapat sayuran dan ikan segar. Hasil panen tanaman dari akuaponik tentunya memiliki nilai harga jual yang cukup tinggi di supermarket karena bersifat organik.

Sistem aquaponik ini juga jauh lebih esien. dari hasil penelitian untuk ternak membutuhkan sekitar 7 kg biji-bijian untuk membangun 1 kg bobot hidup. Sedangkan budi daya ikan pada sistim aquaponik  dapat melakukan hal yang sama dengan kurang dari 2 kg biji-bijian. Bila ada 1000 ton air untuk memproduksi 1 ton biji-bijian, maka memelihara ikan sekaligus tanaman dalam satu sistim jauh lebih efisien daripada memelihara ternak.

 

image image
image image
  1. Beberapa jenis media yang dapat digunakan dalam sistem akuaponik adalah pasir kasar, arang kayu, arang sekam, ijuk, kerikil,dan tanah.
  2. Persiapan bibit tanaman. Tanaman harus disemai dan dipelihara terlebih dahulu hingga mencapai ukuran yang ideal untuk dipindahkan di media filter. Benih tanaman yang digunakan berasal daru biji-bijian yang sudah siap digunakan seperti yang tersedia pada umumnya di toko atau kios tani. Langkah awal yang perlu dilakukan dalam penyediaan tanaman yang siap dipelihara dalam sistem akuaponik adalah penyemaian. Penyemaian benih atau bibit tanaman dilakukan dengan prosedur yang sesuai dengan jenis tanaman yang diinginkan. Umumnya penyemaian ini memakan waktu antara1-2 minggu. Untuk beberapa benih diperlukan perendaman terlebih dahulu selama satu malam untuk mengaktifkan enzim pertumbuhan dan memecahkan masa dormansi biji. Setelah benih yang disemai dari biji-bijian tersebut beserta seluruh akarnya ke wadah pemeliharaan. Wadah pemeliharaan bisa berupa ember-ember plastik, polibag atau gelas plastik.

Dalam pemeliharaan tanaman, pengaturan air yang digunakan untuk penyiraman tanaman perlu dilakukan melalui kran agar air yang masuk dan keluar wadah pemeliharaan seimbang sehingga tidak terjadi kekurangan atau kelebihan air di bak filter.

 

Diagram Akuaponik

 

 

Persiapan Untuk Budidaya Ikan Lele

Skill yg aku perlukan untuk budidaya ikan lele?

  1. Mengerti sifat dan karakter jenis ikan yang akan dibudidayakan, kebiasaan makan, kebiasaaan hidup, mudah stress atau tidak bila dibudidayakan dengan kepadatan tebar yang tinggi.
  2. Mengeuasai tehnik Manajemen atau pengaturan Kualitas Air.
  3. Bisa menghitung Jumlah Pakan yang diperlukan
  4. Mempersiapkan sarana yang sesuai dengan kepadatan tebar bibit ikan, karena tingkat kepadatan ikan sangat menentukan prasarana yang diperlukan, tentunya akan mensegmentasi Sistem Budidaya yang akan dijalankan. ( Tradisional, SemiIntensif atau Intensif ).

Bila sudah menguasai tehnik-tehnik dasar dalam Budidaya maka dapat dilakukannya pembesaran Ikan Lele dengan kepadatan yang sangat tinggi yaitu 200 ekor/m3 keatas. Kalau dikuasai teknik dalam budidaya Lele dengan sistem Intensif, Lele mampu hidup pada stresing kepadatan tebar yang ekstrim tinggi tetapi pertumbuhannya masih dalam range waktu standard budidaya, yaitu sekitar 75 Kg/m3 daging ikan Lele, jadi kalau 1 Kg isi 10 ekor, maka lele mampu hidup dengan pertumbuhan yang normal pada kepadatan tebar 750 ekor/m3.

Apakah syarat-syarat kehidupan yang bisa dicapai, untuk melakukan teknologi intensif itu ?

  • OKSIGEN, sebagai LIMITING FACTOR perlu disediakan pada jumlah yang optimal, walaupun lele mempunyai Labirynth yang bisa digunakan secara langsung mengambil Oksigen di udara.
  • Kualitas Air yang Optimal sehingga terbentuknya Air berwarna Hijau di awal Budidaya ( TEKNIK GREEN WATER SYSTEM).
  • Manajemen Pakan dan Kualitas Pakan.
  • Kuantitas Air cukup.
  • Kualitas Bibit yang bagus ( seragam dan dari jenis induk yang terpilih/ tidak in dreeding ).

Mengapa dilakukan di outdoor (kolam di luar ruangan), apakah tidak memungkinkan dilakukan di dalam ruangan?

Indoor system, sangat mungkin juga dilakukan,tetapi prasarananyapun harus disesuaikan memakai kincir air atau blower untuk suplai Oksigen dibadan air. Karena Kalau Indoor System sudah tidak memungkinkan dilakukan Budidaya dengan Tehnik GREEN WATER SYSTEM, yaitu suplai Oksigen sebagian besar bergantung pada fotosinseta Phytoplankton.

 

Konstruksi dan Disain Kolam

Konstruksi & Disain Kolam sangat berpengaruh pada Sistem Tehnis dan keberhasilan dalam menjalankan Budidaya. Untuk tebar diatas 150 ekor/m3 diperlukan konstruksi kolam dari plastik atau semen beton.

Konstruksi dan disain kolam sangat menentukan sistem budidaya yang akan dilakukan, karena dengan sistem ini nanti juga akan menggambarkan Sarana, Prasarana, modal, skill SDM tingkat penguasaan tehnis-tehnis Budidaya.
Untuk lebih mudah membagi sistem Tehnologi, modal, sarana dan Prasarana pada Budidaya Lele maka sistem Budidaya bisa dibagi menjadi 3 sistem, yaitu :

  1. Sistem TRADISIONAL, pada sistem ini kepadatan tebar bibit Lele < 50 ekor / m3, pakan yang diberikan bisa berupa pakan buatan sedikit sekali, dan masih bergantung pada pakan alami yang tumbuh dikolam ikan seperti jentik2, zooplankton, diatom dll. Konstruksi kolam bisa dibuat dengan tanah seluruhnya.
  2. Sistem SEMI INTENSIF, kepadatan tebar bibit lele 50 – 150 ekor /m 3. Pakan sudah mulai lebih banyak bergantung pada pakan buatan/pelet, sedangkan apakan mengandalkan pakan alami atau pakan segar lain jumlahnya tidak bisa banyak.Konstruksi kolam masih bisa menggunakan tanah yang pada dinding-dindingnya dipadatkan,atau pada pinggiran kolam bisa dari semen atau plastik, untuk mengurangi porositas air kolam.
  3. Sistem Intensif, kepadatan > 150 ekor/m3, Pakan sudah 100 % bergantung pada pakan buatan dengan protein yang seusuai dengan fase-fase pertumbuhannya. Konstruksi kolam sudah full dari Plastik ataupun beton semen. Sehingga memutus faktor pengaruh terhadap media lingkungan, jadi sepenuhnya masuk dalam kontrol manajemen kita

DISAIN KOLAM, sangat menentukan tingkat manajemen tehnis yang akan kita jalankan nantinya. Untuk Sistem Pembesaran pada Lele disain kolam akan menentukan tingkat daya sanggah media terhadap produktifitas pertumbuhan ikan lele. Karena Pada kolam yang dangkal kedalaman < 1 m, akan menentukan sedikit atau banyaknya lele yang bisa dengan leluasa tumbuh dan hidup, jadi penghitungan Volume media air kehidupan ikan lele adalah jumlah ikan per meter kubiknya. Semakin dalam kolamnya maka akan semakin banyak bisa mengisi kolong-kolong air untuk hidup ikan lele, tetapi dengan syarat ke homogenan kualitas air didasar, tengah dan permukaan harus bagus.

Maka semakin dalam kolam dengan kepadatan tebar ikan semakin tinggi maka akan diperlukan sarana-sarana tambahan, seperti pompa air yang diperlukan untuk mengaduk masa air menjadi homogen antara lapisan bawah dan atas. Pompa ini sangat berpengaruh membuat tingkat kualitas air kolam menjadi lebih baik.

Disain dan Kostruksi kolam penting sekali diperhatikan, karena menentukan tingkat kemudahan dalam manajemen Kualitas dan Kuantitas Air, yang terpenting adalah bagaimana cara membuat masa air sehomogen mungkin, yang nantinya pengadukannya akan dibantu oleh POMPA, jadi dengan konstruksi sebagaimanapun bentuknya asalkan tidak porus maka kualitas air bisa distabilkan. Lebih lanjut dibahas dalam manajemen kualitas Air secara Praktis.

 

Persiapan Kolam

Penentuan jenis kolam dari tanah, plastik ataupun beton yang terpenting adalah bisa menyimpan masa air selama masa budidaya atau tidak porus.Hal ini penting sekali diperhitungkan karena air yang porus akan berpengaruh sekali terhadap kestabilan kualitas dan kuantitas air selama masa Budidaya, maka pertumbuhan pun akan bisa terpengaruh dari perubahan-perubahan yang tidak stabil ini disamping faktor cuaca.

Kolam tanah, persiapan awal selain pemadatan dinding dan tanah dasar supaya tidak porus, maka untuk Budidaya Lele yang sangat perlu diperhatikan adalah dinding atau dasar yang padat membuat Lele tidak mudah bersembunyi membuat lubang, disamping pada dasar dan dinding kolam yang tidak rata permukaannya membuat kotoran tidak mudah terbilas hanyut dalam pembuangan. Sehingga kotoran akan mudah menumpuk pada titik yang tidak rata tsb, hal ini akan terjadi titik daerah mati atau dead zone .

dead zone, adalah terjadinya titik daerah mati, dimana terjadi penumpukan Bahan Organik atau sampah yang terkumpul pada area-area tertentu. Daerah ini Kadar amoniak dan gas-gas beracun mulai tinggi sehingga tidak disukai oleh ikan. Apabila ada pakan ikanyang jatuh pada titik-tik ini maka ikan tidak akan mau makan, atau daerah ini temapt menjadi sarangnya beberapa bakteri phatogen yang menyebabkan sakit pada ikan.

image

Pemberian kapur atau LIMING pada kolam tanah sangat mutlak diperlukan, karena kapur ini fungsinya sebagai :

  1. Buffer atau penyagga agar PH di air tidak melonjak naik pada sore hari dan turun pada waktu menjelang pagi hari.
  2. Sebagai sumber menyuplai CO2 ( carbondioksida ) dari unsur kapur yaitu Bicarbonat (H2CO3)2- yang akan menyuplai digunakan untuk fotosintesa phytoplankton ( mikroalga hijau ).

 

Pembentukan penumbuhan phytoplankton dapat dilakukan dengan cara memancing pemupukan, tetapi setelah kondisi pemberian pakan yang rutin pada ikan, sisa-sisa pakan ini justeru akan menjadi sumber bahan Organik yang akan diubah menjadi pupuk yang subur oleh siklus mikroorganisme dikolam dalam sistem-sistem Probiotik yang diterapkan nantinya.

Membuat warna Hijau pada Kolam Tanah untuk persiapan tebar Bibit, ini sangat penting sekali dilakukan, karena untuk mendapatkan lingkungan air yang nyaman untuk hidup bibit-bibit lele. Pada Lingkungan air yang berwarna Hijau daun maka Suplai Oksigen (O2) dari hasil fotosintesa sangat membantu untuk kenyamanan hidup bibit. Disamping Phytoplankton ini juga sebagai selimut alami yang berfungsi menjaga kestabilan fluktuasi suhu air perbedaan pada siang Hari dan malam harinya.

Teknologi inilah yang menjadikan perkembangan pengetahuan yang sangat berarti untuk di ketahui oleh para petani ikan. Karena sementara ini sebagian besar petani ikan masih berkiblat pada dunia pertanian,dimana bagaimana carnya membuat lingkungan menjadi subur untuk tumbuhnya phytoplankton atau zooplankton sebagai makanan ikan. Tetapi kenyataannya yang terjadi dilapangan malahan memberi beban yang sangat berlebih pada lingkungan air, sedangkan pakan alami tumbuhnya tidak sesuai dengan jumlah biomasa ikan. Pakan alami sangat membantu perkembangannya bila dilakukan dalam sistem pendederan secara alami, yaitu untuk bibit-bibit dari ukuran 1 sampai 2 Cm.

Tahapan yang perlu dilakukan untuk kolam tanah dan plastik maupun beton agar menjadi Hijau adalah sbb :

  • Masukkan air bersih, kalau air dari sawah atau sungai karena sudah mengandung bibit phytoplankton dan kadar Bahan Organik yang terlarut relatif lebih tinggi, maka akan lebih mudah dalam pembentukan warna airnya. Tetapi apabila sumber airnya adalah air dari sumber mata air atau sumur, maka perlu dipancing dengan adanya pemupukan menggunakan pupuk Urea sebanyak 5 grm/M3 dan Kaptan atau Dolomit 100 grm/M3 langsung ditebar secara merata pada permukaan kolam pada pagi hari setelah matahari terbit ( pk 7 – 9 pagi).
  • Berilah perlakuan probiotik XTRO Sebanyak 10 ml/ m3 air dan ditebar merata pada permukaan air.
  • Lakukanlah pemberian kapur kaptan/dolomit, urea, dan Xtro ini selama 3 – 5 hari berturut-turut sampai didapat warna air yang hijau.
  • Apabila sudah didapat warna air yang hijau maka berarti air sudah siap tebar bibit, tetapi secara berkala masih perlu dilakukannya perawatan atau maintenance, agar warna hijau akan tetap stabil ( lebih jelas akan diterangkan dalam strategi membuat warna air hijau dalam GREEN WATER SYSTEM )
  • Pada kolam tanah kemungkinan akan lebih mudah dalam membuat warna air cepat menjadi Hijau, sedangkan pada kolam plastik atau beton agak lebih sulit. Tetapi pada kolam tanah karena mudah sekali menjebak kotoran atau Bahan Organik maka akan mudah didapat kondisi lingkungan yang cepat subur diumur masa budidaya diatas 60 hari, sehingga sering terjadi gejolak penyakit yang disebabkan oleh penurunan daya dukung lingkungan kolam karena kotoran yang berlebih.
  • Pada kolam Plastik atau Beton, pada awalnya memang sulit untuk membetuk warna air, tetapi dengan kepiawaian kita dalam mengolah air maka justeru pada kolam ini mudah sekali mengontrol tingkat kesuburan dalam kolam, apabila terjadi permasalahan yang berkaitan dengan penurunan daya dukung Lingkungan air lebih mudah sekali dalam mengendalikannya.

KOLAM PLASTIK atau BETON, Pada kolam ini apabila konstruksinya sudah disiapkan dengan baik dan tidak ada kebocoran pada konstruksinya maka bisa dimasukkan air setinggi 60 – 70 Cm untuk membuat warna air menjadi Hijau.

PEMBUATAN WARNA AIR MENJADI HIJAU INI SANGAT MUTLAK HARUS DILAKUKAN UNTUK BISA DILAKUKAN TEBAR BIBIT, untuk kolam-kolam dengan sistem budidaya Out door karena suplai Oksigen sudah 100 % bergantung pada sistem Fotosintesa pada Phytoplankton yang berwarna Hijau Muda segar di kolam.

LAKUKAN PERSIAPAN UNTUK TEBAR BIBIT APABILA HAL WARNA AIR SUDAH DIDAPAT STABIL. Dinamika Jenis-jenis warna Air kolam, dan kualitas air nanti akan dibahas lebih lanjut pada GREEN WATER SYSTEM.

 

Manajemen Pakan Lele

 

Penyakit Lele dan Penanganannya

Ciri-ciri lele perut membuncit

Untuk ukuran kolam 10 m2 takaran nya 2 liter air di rebus dengan daun sirih 15-20 lembar + air kolam di kasih garam 0.1% dari volume air tapi sebelumnya air kolam dikuras sekitar 50% dr volume awal baru deh isi air lagi + garam dengan cara garam di capur air dan di percikin ke air kolam setelah itu baru deh kasih air rebusan sirih.

2 komentar:

LELASURAMADU LOVES CATFISH mengatakan...

Cocok untuk diterapkan di areal perkotaan yang lahannya terbatas

fachrie230 mengatakan...

really green technology concept bro,